Senin, 08 Maret 2010
Metafor dari Jalanan*
Keadaan jalanan bagaimanapun adalah sesuatu yang akhirnya masuk dalam memori, proses pengolahan bawah sadar hasil pengendapan menjadi sesuatu yang lain dari hasil biasanya membutuhkan cara berpikir lain juga untuk dinampakan menjadi sesuatu yang unik. Lebih dalam lagi bagaimana membuat visual yang mempunyai kedalaman mengolah gambar. Visual-visual yang muncul atau drawing dalam pameran ini merupakan representasi dari apa yang terlihat shari-hari dalam kehidupan kita.
Obyektivitas visual yang dihasilkan merupakan sesuatu yang dinamis, karena hasil proses dan pengendapan yang tidak tertinggal oleh waktu. Disinilah bagaimana penghayatan proses menjadikan visual itu lebih dari apa yang ada pada obyek sebenarnya muncul. Psikologis secara subyektif mempunyai pengandaian lebih dari obyek yang biasa, disini metafor terhadap obyek berlaku, sebagaimana subyektivitas visual yang hendak dimunculkan utnuk melengkapi bagaimana keunikan visual itu menjadi sesuatu yang lebih.
Proses inilah yang memperlihatkan bagaimana proses persepsi personal menjadi sesuatu yang menarik, bagaimana obyek dijalanan menjadi visual yang atraktif, secara komprehensif merupakan proses yang membuka kesadaran dimana obyek merekam lalu mengeluarkan lagi dalam bentuk yang lebih personal. Differensiasi ini yang membuat penerjemahan subyektif mempunyai bentuk yang ideal secara perseptif. Kelebihan atau kekurangan adalah nilai tambah dimana reaksi tidak sama waktu kemunculannya.
….what exactly is produced as a difference attesting to the spesific work of artistic image on the forms of social imagery? (The Future of Image,Jacques Rancière,PenerbitVerso, 2007)
Elemen subyektif ini memperkaya bagaimana pameran ini dilakukan, memperlihatkan sejauh mana social imagery sebagai cara untuk menilik jalanan dalam visual-visual yang tercipta secara fundamental. Hal ini karena kondisi pelaku akrab dengan situasi jalanan yang setiap saat ditemukan.
Melalui tehnik drawing yang diperlihatkan oleh masing-masing seniman bagaimana goresan atau garis mempengaruhi obyek secara keseluruhan dan suasana jalanan yang terjadi terekam sebagai obyek mereka. Bagaimana muncul sebagai metaphorical? Disinilah daya fikir menjadi alat utama untuk melihat bagaimana jalanan itu menjadi visual dalam bentuk karya, metafor visual atau ibarat-ibarat yang terjadi dijalanan sebagai merangsang secara subyektif senimannya.
Elemen yang mendalam ditunjukan dengan gaya masing-masing dalam mengibaratkan kehidupan jalanan dalam diri mereka.
(pengantar kuratorial, Pameran Phthalo Gallery)
Menilik Ideologi Diri
Jacques Ranciere
Ketika berhadapan dengan praktek pembacaan visual, maka relasi terhadap hal-hal diluar visual ternyata mempunyai faktor yang tidak dapat ditinggalkan terutama masalah interaksi. Dimana identitas visual itu sangat signifikan saat memasukan pada kategorisasi visual tersebut. Disinilah masalah yang perlu di jabarkan secara lebih luas untuk menjawab bagaimana visual menjadi penanda ketika memasuki evolusi baru. Melalui hal inilah pameran ini mencoba melihat kembali bagaimana perkembangan visual saat ini atau mungkin hari ini.
Pemilahan tentang fakta visual hari ini merupakan proses kategorisasi dimana visualisasi mempunyai pengaruh terhadap bagimana perkembangan masyarakat memasuki evolusi baru dalam memahami dunia visual. Serta memberi pengertian baru dalam perkembangan dunia seni lukis khususnya. Disinilah pemaknaan terhadap evolusi visual menjadi sesuatu yang berarti.
Kondisi yang mendesak adalah bagaimana memilah, membuat pembacaan atas fenomena seni visual hingga menjadi sesuatu yang dapat di pahami sebagaimana adanya. Seni visual selalu menemukan titik kontingensi dengan budaya diluar hukum kreatif. Ketika benturan ini muncul maka ada sesuatu yang perlu pemilahan untuk dijadikan materi yang mendasari asumsi atas evolusi visual. Pengaruh apa yang terdapat dalam seni visual hari ini? Hingga perkembangan dunia visual mempunyai dampak personal yang luar biasa.
Hubungan terstruktur dalam melihat personalitas, khususnya dunia seniman, serta lingkungan yang mempengaruhinya merupakan efek dimana evolusi visual mempunyai kedalaman dalam mencari bentuk-bentuk baru. Titik kontingensi, atau titik pertemuan antara seni visual, budaya visual dan evolusi visual mempunyai tempat yang tidak terduga. Benturan budaya yang paling menentukan bagaimana proses kontingensi ketiga faktor itu mempunyai tempat yang spesifik.
Proses indentifikasi visual
Melihat lebih jauh bagaimana perkembangan seni visual tentu membutuhkan identifikasi secara jelas. Sehingga ditemukan dimana titik kontingensi, atau tempat bertemunya benturan dan munculnya sistem interaksi dalam proses kreatif seni visual tersebut. Berbagai gerakan muncul satu dekade terakhir, mencermati bagaimana kegairahan terhadap seni visual dalam ruang yang begitu luas, serta memodifikasi sudut pandang cara melihat seni visual tersebut.
Munculnya gerakan dan meluasnya bagaimana seni visual mempunyai arti dalam budaya yang begitu beragam membutuhkan kodifikasi, serta identifikasi. Melalui gerakan-gerakan inilah seni visual mempunyai penanda pada zamannya. Ungkapan dan gaya sebagai penanda merupakan cara terbuka untuk memilah kemunculan seni visual tersebut. Proses identifikasi gerakan terhadap kemunculan seni visual yang dianggap baru mempunyai realitas tersendiri pada zamannya, karena memang dibutuhkan untuk proses indentifikasi tersebut.
Secara budaya pengaruh televisi dan dunia virtual memasuki tahapan baru dalam evolusi visual baru, rekayasa visual dengan teknologi berkembang pesat, memenuhi kebutuhan yang seharusnya diluar kapasitas konsumsi masyarakat. Televisi sebagai tekhologi baru pengantar gambar-gambar hidup di era 70 an, memulai perkembangan evolusi visual yang dinamis. Visual yang sebelumya muncul tanpa penceritaan yang menghidupkan narasi menjadi dapat ditonton setiap saat. Bombardir tanpa henti inilah yang kemudian membuat percepatan proses seni visual menemukan evolusi dalam tahapan pengaruh teknologi dalam kehidupan sehari-hari.
Pada tahun itu muncul gerakan Lowbrow, or lowbrow art, describes an underground visual art movement that arose in the Los Angeles, California, area in the late 1970s. Lowbrow is a widespread populist art movement with origins in the underground comix world, punk music, hot-rod street culture, and other subcultures.[2] Gerakan ini dicetuskan oleh Robin Williams dan Gary Panter.
Melalui deskripsi diatas low brow mencoba memilah bagaimana gerakan ini mengakomodasi seni visual yang tidak berada diranah kehidupan sosial biasa. Semacam underground komik dan musik punk serta subkultur yang demikian menjamur pada masa itu yang belum tidak terakomodir dengan tepat. Menjadi sesuatu yang tidak mungkin untuk dihadirkan dalam dunia mainstream yang begitu kompleks dan sudah mempunyai sisi establish yang kuat.
Proses identifikasi dengan gerakan seni merupakan cara efektif dalam membuka peluang dalam kodifikasi atau meluaskan seniman dalam memahami bagaimana tahapan evolusi visual yang sebenarnya terjadi. Sudut pandang yang begitu mendalam dan mempunyai identitasnya dalam ruang-ruang sosial selanjutnya merupakan penanda dalam budaya visual. Evolusi visual inilah yang memberi sudut pandang baru terhadap pembacaan karya-karya seniman di kemudian hari.
Kini pengaruh dunia virtual menambah dekandensi terhadap perkembangan dunia seni, jika seniman tidak mengenal teknologi merupakan beban tersendiri terhadap bagaimana pemakaian teknologi dalam karya-karya mereka. Kondisi ini mau tidak mau merupakan beban dalam prose kreatif mereka. Intuisi yang semual digunakan segara original dalam menelaah imajinasi dan menuangkan ke atas kanvas tanpa melihat sejauh mana karakter obyek yang dilukiskan dalam bentuk yang lain. Menjadi tertinggal obyek tersebut.
Seperti karakter Lara Croft dalam film-film yang telah dibuat dalam berbagai karakter personal, perubahan karakter mengikuti situasi yang hendak dimunculkan dalam penceritaan, hal ini merupakan telaah terhadap bagaimana pembentukan visual mengadaptasi karakter yang hendak dimunculakn dalam ruang yang lebih spesifik. Virtualisasi Lara Croft kembali hadir ketika bentuk tiga dimensinya mendominasi bagaimana ruang-ruang spesifik penceritaan itu muncul.Sehingga karakter karakter Lara Croft dapat ditemukan dengan mudah di internet. [3]
WOUW…! : Sebuah Ideologi Diri
Pameran ini merupakan salah satu cara bagaimana mengungkapkan identifikasi terhadap seni visual yang berkembang saat ini. Berbagai pengaruh muncul dalam seni visual hari ini merupakan tantangan bagaimana budaya visual dicerna untuk mendapatkan spesifikasi dan nilai baru yang secara personal di anut oleh seniman. Proses ideologis terhadap pemilahan yang berlangsung hingga kini merupakan tahapan dimana reaktifitas terhadap seni visual berkembang dalam dinamika yang begitu dalam merancang arah estetis pembentukan visual.
Pameran ini juga mengungkap bagaimana pemakaian tehnik drawing, tehnik sablon dan tehnik melukis telah berkembang saat ini. Serta pendekatan karakteristik obyek yang dipengaruhi oleh teknologi dan dunia virtual khususnya menjadi tolok ukur dalam pembuatan obyek. Evolusi visual dengan berbagai pengaruhnya menjadi proses pilihan estetika seni visual yang mempunyai berbagai latar dan cara pengerjaan dengan gaya kekinian. Terutama gaya komikal yang menjadi pilihan utama.
Apa yang didefinisikan Robin William kini memasuki tempat yang jauh dari tempat semula dicetuskan, identifikasi terhadap visualisasi yang dimaksud oleh gerakan tersebut merupakan hakekat bagaimana generasi berikutnya mencerna apa maksud definitif dari gerakan itu. Inilah kondisi yang harus dideskripsikan hari ini untuk mengikuti proses identifikasi berikutnya bagaimana memahami seni visual dengan evolusinya yang begitu cepat.
Ide-ide komikal muncul di sini merupakan adaptasi bagaimana pengaruh seni visual diluar material dua dimensi menjadi faktor utama dalam menghilangkan perbedaan memahami karakteristik material dalam menggunakan teknologi atau tidak dapat membuat proses visual obyek. Inilah karakteristik yang dikonstruksi secara estetis hari ini dalam pemahamannya dengan dunia visual.
Bukan kesan yang dimunculkan tetapi bagaimana proses pembentukan visual menjadi sesuatu yang benar-benar hadir dalam tatanan budaya visual yang sebenarnya ditengah lingkungan interaktif dalam masyarakat. Kondisi inilah ideologi diri perlu ditegakan untuk membentuk bagaimana estetika hari ini ditegakan menjadi identitas ditengah masyarakat yang heterogen. (Frigidanto Agung, kurator)
Catatan:
[1] The Future of The Image, Jacques Ranciere, Penerbit Verso, 2007
[2] (http://en.wikipedia.org/wiki/Lowbrow_art_movement)
[3] Lara Croft: Tomb Raider: The Man of Bronze, James Alan Gardner, DELREY, 2004
Senin, 14 Desember 2009
“Soliloquy : Contemporary Sculpture Exhibition"
Material patung memang memberi kelebihan tersendiri dalam penampakan visualnya. Jika memperhatikan bentuk patung, penggunaan material sebagai dasar pembuatan patung cenderung menjadi identitas bentuk obyek. Kekuatan pembentukan obyek dari patung mempunyai dasar dari penggunaan materialnya. Ini dapat dilihat pada pameran patung di Galeri Nasional Indonesia, Jl Medan Merdeka Timur 14 Jakarta pada tanggal 5-14 Desember 2006. Para pematung yang berpameran adalah dua pematung Indonesia dan dua pematung China akan bertemu di ruang pamer utama. Masing-masing pematung memajang karya dengan ciri khas yang telah mereka miliki. Yani Mariani Sastranegara dan Dolorosa Sinaga, dua pematung perempuan Indonesia ini membuat karya dengan material logam.
Sedangkan pematung China, GuangCi dan XiangJing lebih banyak menggunakan fibre glass kedua pematung China ini menuangkan karya-karyanya dalam bentuk realis. Ukuran patung yang dikerjakannya cenderung kecil-kecil, seperti miniatur, kesan bentuk dari tubuh sebagai obyek sangat menonjol. Sedangkan pematung Indonesia, Yani Mariani, membuat karya-karya dengan obyek tubuh yang dinamis, menampakan tubuh dengan berbagai geraknya, cenderung membuat simbol-simbol, serta bagaimana menunjukan gerak tubuh dengan atraktif. Dolorosa Sinaga, memperlihatkan karya dengan tubuh figur-figur sebagai obyeknya, cenderung mengungkap detail dari lipatan-lipatan yang melingkupi obyeknya.
Obyek yang ditampilkan dalam pameran patung ini merupakan figur-figur yang terlihat sehari-hari, yakni tubuh. Dimana secara fungsional tubuh selalu menjadi pengamatan yang tidak lepas, baik oleh tatapan mata atau khayalan dalam pikiran. Tetapi melalui ekspresi para pematung tubuh ditangkap lain. Baik menjadi abstraksi gerak ataupun realitas nyata dari representasi tubuh. Sublimasi karya yang terangkai dalam pameran ini merupakan totalitas menyeluruh dari apa yang dinamakan “Soliloquy: Contemporary Sculpture Exhibition", sebagai judul pameran.
Identitas yang ditampilkan oleh masing-masing pematung adalah kekuatan khas yang mereka bawa. Baik melalui bahan yang mereka pergunakan atau bentuk-bentuk yang mereka bawakan. Eksplorasi terhadap tubuh dalam membentuk figur merupakan dimensi presentasi untuk menjembatani keseluruhan obyek. Walaupun bentuk dari tubuh menjadi berlainan tetapi inilah citraan terbaik yang dibawakan oleh para pematung.
Melalui pameran ini discourse tubuh dapat ditangkap secara nyata, bahwa berbagai bentukan yang diinginkan oleh pematung adalah realitas yang ada dalam kehidupan. Seperti karya Yani Maryani, berjudul Mengejar Angin, 105x78x39cm, Plat Tembaga. Merupakan ekspresi tubuh terhadap keinginan yang hendak dilakukan, lekuk-lekuk yang membentuk obyek menjadi tidak nyata, menjembatani tubuh sedang melakukan satu gerak. Abstraksi tubuh tetap sebagai sentral untuk menunjukan obyektivitas dalam mewujudkan dimensi gheist (roh) karya,dalam pameran ini.
Lain dengan Guangci dan Xiangjing, bentukan nyata dari figure yang diolah secara realis melalui bahan fiberglass masih mempunyai dialektika dengan kehidupan sosial. Pengaruh budaya sangat kental sekali dalam pemilahan obyek. Apa yang sebenarnya ada dalam kehidupan sehari-hari dimuat sebagai representasi obyek. Bahkan pemakaian warna dalam patung pun sangat membantu bagaimana perspektif karya memperlihatkan discourse yang subyektif. Bagaimana persepsi mereka terhadp kondisi social tercermin dalam karya.
Melalui warna-warna yang digunakan dalam patung. Realitas sosial direpresentasikan dalam figur-figur yang cenderung bernafaskan pop art. Tetapi tidak meninggalkan nilai artistic dalam obyeknya. Seperti detail yang masih diperhatikan. Bagian-bagian tubuh yang tidak terhindarkan dari pengamatan ditunjukan dengan rapi. Seperti patung Pigherder (57x62x56) Fiberglass,Bronze, karya Guangci. Gaya realis dalam menyajikan obyeknya cukup kental. Seorang penggembala babi dengan pakaian dan celana hijau direpresentasikan secara verbal. Tanpa membuat ornament-ornamen tertentu dalam lekuk tubuhnya. Nampak obyeknya seperti miniatur penggembala yang sesungguhnya dilihat dari ukuran patung tersebut. Citra kekinian yang disajikan dalam bentuk yang cukup mungil ini membuat potret sosial kehidupan menjadi jelas. Pendekatan obyek seperti memindahkan kenyataan sosial dalam patung.
Figure yang didamba oleh masing-masing pematung ternyata membentuk realitasnya sendiri dalam ruang kehidupan yang tidak jauh dari apa yang ditangkap oleh kenyataan. Patung-patung dalam pameran ini adalah representasi sosial yang menyibak wilayah abstraksi untuk dibuat replikanya, khususnya karya Guangci dan Xiangjing. Selain itu karya Xiangjing berjudul Xiang Jing-04-1088 Club (72x31x20) Fiberglass painted, memperlihatkan seorang perempuan dengan rokok dimulut yang berjalan seorang diri dengan pakaian yang serba gelap. Sedang menghidupkan korek api. Xiangjing nampak menangkap realitas dengan mempersepsikan individu dalam gerak langkahnya. Lekuk-lekuk kain dari pakaian yang digunakannya diperhatikan secara detail.
Pameran patung ini mengungkap kekuatan artistic yang dibangun oelh masing-masing seniman dalam berkarya. Bagaimana wilayah obyektif dalam kekaryaan terlihat jelas. Persepsi terhadap obyek memunculkan pemikiran dalam berkarya memuat representasi visual dalam budaya yang berbeda nampak kental. Penanda dalam budaya nampak jelas dalam memuat rangkaian kapasitas karya.
Rabu, 11 Maret 2009
Pameran Kaligrafi
Kejadian tsunami di Aceh ternyata tidak bisa dilupakan oleh orang-orang Aceh. Bagaimana dahsyatnya bencana itu memberi pengaruh pada kehidupan selanjutnya. Terutama bagi yang merasakan saat bencana terjadi. Sayid Akram,pelukis kaligrafi asal Aceh. Melukiskan visualisasi bencana tsunami itu dengan abstraksi yang kuat,melalui sapuan kuas,bagaimana daratan ditelikung oleh air laut yang menggulung seluruh isi daratan. Hingga semua benda-benda yang biasa terlihat hanyut,terbawa air, Gelombang air itu tertancap dalam perasaan yang mendalam pada diri Sayid Akram, hingga dia memberi judul lukisannya, “Peristiwa dibumi Aceh awal abad XXI” ,oil on kanvas,300x150cm,thn 2003. Walaupun lukisan ini terkesan abstrak tetapi ada loncatan yang merekam gejolak ketika bencana terjadi. Air yang menjadi sumber bencana dibayangkan sebagai satu ledakan dahsyat yang menguburkan kehidupan. Kekuatan air inilah yang terekam dalam benak Sayid Akram,pelukis kelahiran Pidie Aceh, menjadi salah satu inspirasinya untuk melukiskan gerak air. Berawal dari tetesan embun hingga menjadi air bah yang bergerak begitu dahsyatnya, bentuk pelukisan dengan mengambil air sebagai kekuatan inpsiratif menjadi karya kaligrafi. Mulai tanggal 25-31 Agustus 2005,dipamerkan bertempat di Reform-Institute, Jl Pancoran Indah, Komplek Liga Mas Indah Kav D/3,Perdatam,Pancoran, Jakarta Selatan. Pameran yang mengambil judul Reformasi Rohani Lewat Lorong Seni, merupakan pameran tunggal Sayid Akram tahun 2005, karya yang dipamerkan sebagian besar adalah kaligrafi.
Sayid Akram mencoba secara embrional bagaimana satu titik atau setetes embun,yang menjadikan inspirasi bagi dirinya. Menjadi satu pelukisan makna melalui titik menjadi garis atau khot(bhs Arab)hingga membentuk lukisan kaligrafi yang berukuran besar-besar tersebut. Kekuatan tehnik melukis Sayid Akram mendukung untuk membuat satu ruang,dalam kanvas, berujar tentang apa yang dihadapi dalam kehidupan ini untuk diungkapkan. Seperti judul lukisan,yang mendatangkan kebenaran(al baqoroh 147),oil on kanvas, 140x110,2005. dan yang maha pemberi karunia(ali imran 8),oil on canvas,140x110,2005. Lukisan ini dominan berwarna merah,latar hitam masih sesekali sisapukan untuk membuat satu gradasi dari latar belakang, hingga nampak tulisan kaligrafis itu muncul, berjarak dengan latar. Secara tehnis cara seperti ini sering dipakai untuk melukis gaya realis, tetapi Sayid Akram mengadaptasinya untuk membuat obyek dari karya-karyanya menjadi kuat, muncul dari permukaan canvas, dan tidak terasa datar. Serta kesan tetesan embun hingga berproses menjadi garis sampai terbentuknya obyek, sangat terasa. Apa yang dimulainya dengan awalan dari embun atau titik dan menjadi garis merupakan kekuatan mendasar dari seluruh karya yang dipamerkan tersebut.
Karya yang sebagian besar mengambil dari ayat-ayat suci AlQuran ini merupakan visualisasi obyek yang memberi penjelasan bagaimana ayat-ayat dalam perkembangannya dapat dijadikan lukisan dengan berbagai bentuk yang selalu berubah-ubah. Sesuai dengan gaya yang terkesan rumit, karena garis-garis yang dibuat untuk menggambarkan satu ayat dalam kaligrafi membuat padat ‘ruang’ kanvas. Penjelajahan sapuan kanvas Sayid Akram, ikut memaknai bagaimana ruang gerak dalam kanvas menjadi maksimal dalam pembentukan obyek. Bahkan tidak ada ruang kosong dalam kanvasnya tanpa warna sedikitpun. Warna yang sering dipakai adalah hijau,merah dan biru, saling bertaut dalam bidang kanvas sebagai satu alat, saling melengkapi membentuk obyek dari ayat suci yang dilukiskannya.
Pada pameran kali ini, alumni Institut Seni Indonesia,Yogyakarta, tahun 1994 ini menggarap obyek garis menjadi kaligrafi menjadi demikian hidup, memperkaya makna penulisan kaligrafi. Tetapi ruang pamer rupanya tidak mendukung pemajangan karya karena terkesan kedodoran tertempel dengan lukisan yang demikian besar tersebut.
Pameran Robert Mason
NUANSA EKSPERIMEN VISUAL
Citra visual dapat memberi ilusi mata. Ketika efek yang didapatkan dari visual mempengaruhi, secara verbal pandangan mata, saat itulah citra yang terbentuk dalam pengertian sesungguhnya dari obyek tertangkap nyata. Seberapa jauh kekuatan efek visual berpengaruh? Kondisi psikologis yang bekerja mengungkap kekuatan efek ini merupakan estetika yang dapat ditangkap melalui citra komprehensif nilai visual yang ada. Melalui warna, cahaya, atau obyek yang ditampilkan. Pengertian mendasar tentang obyek yang sesungguhnya dapat dilihat.
Citra visual lukisan Robert Mason, dapat ditelaah lebih jauh melalui bagaimana mengurai citra visual obyektif tampilan dengan membandingkan citra nyata dari apa yang diinginkan dari realita obyek yang dibuatnya. Nuansa perbandingan ini memang dapat melihat lebih jauh bagaimana kekuatan visual obyek terbentuk.
Citra visual lukisan Robert Mason, dapat diuraikan melalui realita sesungguhnya dari obyek yang disembunyikan oleh warna yang membalut dengan citra cahaya yang membuat lukisan menjadi abstraksi fotografis.
Dua alasan diatas dapat dijadikan cara bagaimana visualisasi obyek lukisan Robert Mason yang sedang dipamerkan di Edwin galeri, Jl Kemang Raya no 21 Jakarta Selatan, terlihat sebagai abstraksi visual untuk mempermainkan subyektivitas pandangan. Pameran yang diselenggrakan dari tanggal 25 Januari sampai dengan tanggal 4 Februari 2007 dapat dilihat gaya eksperimen visualnya sebagai abstraksi obyek dengan berbagai nuansa, baik warna atau cara pencahayaan dalam fotografi.
Realita visual
Robert Mason pelukis kelahiran
Tata cahaya dari visual yang dibentuk menampakan realita yang dapat ditangkap secara fotografis. Permainan warna yang menyebabkan obyek nampak realis adalah efek visual yang muncul. Kesadaran memunculkan obyek secara central melalui bentukan realis yang selalu ditangkap mata ketika aspek visual nyata terbentuk diatas kanvas. Citra visual semacam ini sadar atau tidak secara subyektif memang dibenturkan untuk menampakan visualisasi obyek secara komprehensif.
Aspek fotografis tidak dapat dihindarkan dalam menghayati obyek yang dihancurkan oleh warna ini. Kekuatan visual yang terbentuk memang tidak jauh dari realita yang ada dan tertangkap oleh mata dalam keadaan yang sungguhnya. Sadarkah Robert Mason telah menghancurkan citra visual sesungguhnya? Menyamarkan obyek sesungguhnya dengan warna, realita visual dapat dilihat secara mendasar. Tanpa mengganggu permainan warna yang mengungkap realita visual yang menjadi ekspresi menyeluruh dari lukisan.
Gagasan mewujudkan ekspresi visual
Melalui permainan warna yang menyebabkan citra pencahayaan muncul dalam lukisan adalah permainan subyektif Robert Mason. Dimana pilihan warna yang digunakannya merupakan ekspresi yang mewujudkan tampilan lukisan menjadi
Gagasan dalam mewujudkan ekspresi visual dari lukisan Robert Mason mengalir dalam karya berseri yang diciptakannya. Melalui karya berjudul Substance&Shadow Still Life yang dibuat tahun 2006, mixed media on paper,31,5x22cm. Bagaimana wujud abstraksi dari gagasan menjadi tidak kentara atau tervisualkan dengan abstrak. Disini warna-warna menjadi tumpuan untuk mengenal wujud yang sesungguhnya dari obyek yang dibentuk lukisan.
Terlihat melalui judul yang dipakainya, Robert Mason membuat obyek secara naratif. Sesuai dengan apa yang dilihatnya. Kenyataan visual yang dilukis juga tidak jauh dari apa yang ada pada obyek, yakni aktivitas kerja para pekerja atau visualisasi obyek yang ditunjukannya dengan tata cahaya. Ekplorasi obyek dengan naratif ini membuat ruang-ruang bentukan menjadi lebih realistis mengikuti waktu yang berjalan. Bagaimana setiap orang melakukan pekerjaan secara berututan dan membuat fragmentasi atas kejadian. Menjadi gagasan utama dari visual yang ekploratif ini.
Totalitas pencapaian dalam pembentukan visual dengan mempermainkan warna menunjukan subyektivitas pelukis dalam penciptaan visual dengan ruang interaktif antara apa yang dilihatnya dengan normalitas obyek yang dibentuk. Kekuatan Robert Mason nampak obyektif dalam menghadirkan visualisasi dari apa yang ada, ditunjukannya dengan warna. Pencapaian ini merupakan intensitas penghayatan visual yang memperlihatkan kesungguhan ideal dari obyek nyata.
fotografi
PAMERAN FOTO MASA DEPAN SEBUAH MASA LAMPAU:
VISUALISASI KULTURAL
Apabila melihat gambar-gambar pada goa-goa kuno peninggalan zaman pra sejarah. Kita dapat menemukan visualisasi atas kehidupan saat itu. Bagaimana mereka, pembuat gambar, berinterprestasi atas sebuah peristiwa. Juga bagaimana kehidupan saat itu dapat dilihat secara komprehensif melalui pemahaman visual. Maka ada satu pengertian yang dapat dipahami. Bahwa mereka,manusia pra sejarah, mengandalkan tehnis visualnya untuk memberi penjelasan pada orang lain atau generasi sesudah mereka, melalui gambar yang mereka kenal. Pemahaman melalui gambar-gambar yang ada diseputar kehidupan mereka itulah yang mempermudah terbentuknya visualisasi terhadap kultur yang telah mereka bentuk. Pembentukan kultur yang secara sadar dilakukan dengan cara melukis pada dinding-dinding tembok. Menimbulkan kesan bahwa pemahaman visual terhadap subyek sadar kultur untuk membuat obyek visual pada peristiwa yang terjadi saat itu sebagai fenomena tersendiri. Karena dengan memvisualkan kejadian demi kejadian akan memberi dampak pada orang lain, untuk lebih mengetahui, bahwa ada kehidupan lain diluar lingkungan mereka. Satu kelebihan dari apa yang telah dilakukan subyek sadar kultur untuk membagi peristiwa dengan generasi berikutnya, karena apa yang dilukiskan pada dinding-dinding goa itu mempunyai kesan, visualisasi literature untuk kultur sebagai ikatan emosional untuk mengabadikan kejadian yang telah mereka alami. Hingga kini kejadian masa lalu itu dapat ditemukan dan dijadikan sebagai sumber visual manusia zaman tersebut. Konteks visualisasi kini telah berubah menjadi satu alat untuk memperlihatkan kultur dengan alat potret atau kamera, baik itu kamera video atau kamera fotografi. Pemakaian tehnologi untuk membuat satu rancang bangun visual kultur telah berubah menjadi fenomena visual yang dapat menjadikan perdebatan interpretative antar subyek yang mengkaji fenomena visual kultur tersebut.
PENDEKATAN VISUAL UNTUK INAGURASI KULTUR
Apa yang kita dapatkan pada pameran foto masa depan sebuah masa lampau adalah bagaimana membuat satu komunikasi visual terhadap realita sehari-hari terhadap obyek yang ,mau tidak mau, harus kita hadapi setiap saat. Seperti orang berpakaian, tatanan rumah atau lingkungan sekitar dimana kita berdiri. Tiga hal yang dapat dilihat sebagai obyek yang sesaat melintas dihadapan mata itu, merupakan tuntutan kondisi dimana mata tidak terhindarkan untuk mengamati, sejauh mana pengertian terhadap hal yang ditawarkan diatas dapat kita pahami. Secara verbal dapat dilihat pada karya foto Keke Tumbuan, frame demi frame dapat kita melihat bagaimana obyek fotografis pada visualisasi foto berpakaian keragaman cara berpakaian menunjuk pada ikon: kultur macam apa dalam karya tersebut? Ekspresi masing-masing obyek juga menunjuk pada gambaran tertentu dimana lokalitas tempat membantu obyek untuk meluapkan emosi didepan kamera. Disini juga menjadi pertimbangan lain, mengapa? Dinamisasi gerak kultur begitu direpresentasikan secara jujur, tanpa pertimbangan lain kecuali artistic, saat penciptaan visual digunakan. Bukan tidak berarti tanpa estetika yang menjadi tujuan, karena hanya satu format itu terjadi peristiwa yang diabadikan untuk foto karya itu.
Dinamika penciptaan dengan ruang yang berubah-ubah ini juga salah satu alat untuk menunjukan revitalisasi karya yang berulang-ulang. Serta membuat satu tujuan bagaimana presentasi yang dihasilkan dari obyek yang begitu beragam menghasilkan estetika yang mempunyai kualitas tinggi. Permasalahan ruang dalam karya Keke Tumbuan juga alat untuk memberi satu masukan bagaimana karya memberi format presentasi yang ekspresif sesuai dengan dasar ruang penciptaan, secara plastis, serta natural dalam pembuatan dialog visual. Pendekatan ruang memang menjadi dasar yang subyektif dalam fotografi selain dapat sebagai presentasi obyek untuk menampilkan perbedaan ekspresi juga tampilan visual yang membutuhkan latar yang berbeda. Disini obyek secara fotografis akan sadar bagaimana mengadaptasi sekeliling tanpa harus mempertimbangkan tatanan subyektif, apa yang harus dilakukan ketika menjadi obyek visual, spontannitas ini adalah factor yang penting dan menunjuk pada ikon kultur sesungguhnya, tentang tempat kejadian dan peristiwa yang diabadikan sesuai dengan realita saat itu. Tanpa memperlakukan obyek visual secara khusus.
Jika pengambilan obyek seperti ini dilakukan terus-menerus, maka penciptaan obyek realistis untuk presentasi foto secara cultural menjadi nampak nyata. Bagaimana kultur yang sedang dijadikan obyek itu, kebiasaan macam apa yang sedang menjadi obyek, serta tempat macam apa yang menjadi kebiasaan pengambilan obyek. Semua akan menjadi dasar berpikir untuk membuat paradigma dan keluasan representasi wacana bagi inagurasi cultural yang sedang berlangsung pada obyek. Disinilah ikon visual kultur mendapatkan obyek yang murni, bagaimana kehidupan sehari-hari menjadi presentasi dengan wajar tanpa lips sign yang berlebihan. Wacana akan mendapatkan sumber riset yang mempunyai bentuk yang tepat.
Presentasi obyektif ini menunjuk pada kedalaman atau ikon sesungguhnya dari kultur yang sedang berlangsung dalam realita obyektif, saat pengambilan gambar terjadi. Dimensi estetika tentu akan menjadi sisi natural dalam penciptaan visual ini karena obyektivitas fotografis terbentuk tanpa memberi sentuhan bombastis. Seperti dalam foto salon yang harus merepresentasikan pengulangan subyektif untuk mendapatkan adegan dari penciptaan frame yang diinginkan. Sebenarnya hal semacam inilah yang dapat menjadi paradigma terhadap bagaimana inagurasi cultural harus diperlihatkan. Suatu kejadian yang sesuai dengan atmosfer alam dan tanpa subyektivitas untuk pembentukan visualnya. Walaupun membutuhkan presentasi provokatif untuk membuat obyek foto mendapatkan gerak yang natural dalam pengambilan gambar.
Melalui presentasi realistis inilah penanda untuk kultur yang realistis dapat diamati dengan cermat. Bagaimana kejadian dan tempat yang dapat menjadikan representasi dari visual terwujud. Dinamisasi ikon ini dpat dilihat dari waktu ke waktu, berubah atau tidak, jika mendapatkan penanda yang stagnan dalam satu masa maka saat itulah petnda dapat digunakan mejadi ikon yang sesungguhnya, ikon murni dalam kultur. Dengan demikian riset tentang penanda akan mendapatkan satu titik visual yang jelas, tepat sasaran dan tidak membutuhkan energi banyak. Jika ikon visual hasil fotografi diikuti secara runtut dan verbal. Juga melalui segmen semacam ini akan menjadi infrastruktur untuk pemetaan ikon cultural yang lebih beradab,tanpa harus riset yang membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Latar belakang fotografi yang spontan ini memiliki ruang tersendiri untuk mewujudkan satu esei fotografi yang ideal terhadap tekanan social untuk menghadirkan subyektivitas yang diluar naturallitas kultur.
Melalui karya –karya pameran ini dapat dilihat bagaimana ikon kultural diperlihat secara sadar dalam ruang subyektif penciptaan karya. Naturalitas pengambilan visual juga adegan obyek serta tempat yang biasa digunakan untuk pengambilan gambar adalah sekumpulan syarat pembentukan penanda dalam realita ikon kultur. Disini kesimpulan dapat diambil dengan wacana yang cenderung sosiologis dan sosiokulturnya yang menjadi latar belakang.
pameran Teguh Ostenrik
Estetika Ostenrik
Abstraksi yang didapat melalui karya seni ternyata membawa begitu banyak perspektif yang memberi keluasan dalam diskursus. Berbagai obyek yang dijadikan diskursus ternyata menyangkut berbagai hal diluar dunia seni itu sendiri. Tetapi dampak dari diskursus yang didapatkan dari religi, politik, ekonomi dan bidang kehidupan lainnya ternyata mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Salah satunya religi, apa yang dapat dilakukan manusia melalui religiusitasnya? Mungkin satu pertanyaan ini yang dapat membuat kisah-kisah dalam kehidupan ini berkembang menjadi satu fenomena yang dapat diambil hikmahnya. Karena dari kesan-kesan yang telah terjadi dimasa lalu, dapat dijadikan simbol pada masa kini. Hingga manusia mengenal asal-muasal kejadian atau legenda yang tercatat pada buku-buku sejarah pada masa kini.
Melalui dunia senirupa ternyata fenomena-fenomena religi dapat ditangkap abstraksinya itu, mengundang seorang perupa untuk menerima ajakan membuat fenomena menjadi obyek nyata atas legenda religi menjadi obyek seni yang estetis. Perupa Teguh Ostenrik, melalui jalan salib, membuat obyek-obyek religi menjadi patung-patung prosesi jalan salib dimana, karya sketsa, patung dan lukisan,menunjuk pada satu perjalanan ketika Yesus Kristus disalib. Karya-karya seni yang memuat obyek jalan salib ini dapat dilihat melalui pameran Look at me di Nadi gallery, Jl Kembang Indah III Blok G3 no 4-5 Puri Indah,
Teguh Ostenrik terlahir sebagai Islam-abangan dari keluarga Jawa. Terpukau dengan prinsip hidup Budhisme, melanglang ke negara Jerman, belajar tentang seni. Melalui salah satu pamerannya, bertajuk Homo Sapiens, di Singapura, secara tidak sengaja bertemu dengan pendeta Katolik ordo Fransiskan, karena ketertarikan sang pendeta dengan karakter arkaik, purba serta berbahan perunggu. Meminta untuk membuat patung jalan salib, dan Teguh Ostenrik mengerjakan pesanan itu. Pengerjaan yang memakan waktu hampir dua tahun itu rupanya membawa muatan tersendiri bagi Teguh Ostenrik, karena kapabilitasnya dapat dijadikan satu monumen untuk membuat perjalan salib lebih monumental di negeri sendiri, seseorang telah memesan karya Teguh Ostenrik untuk membuat Kapel di daerah Tomohon, Sulawesi Utara. Prosesi jalan salib masih dipergunakan dan hingga hari ini telah diselesaikan patung-patung jalan salib tersebut. Sebelum memasuki masa pemasangan di tempat yang sesungguhnya Teguh Ostenrik mendapatkan tempat untuk memajang karyanya di Nadi gallery.
Obyek jalan salib yang menjadi art proyek bagi Teguh Ostenrik adalah fenomena art proyek yang dapat menjadi abstraksi pasar bagi karya rupa. Tetapi dunia artistik sebagai proses pencarian memang harus dipertimbangkan, demikian juga sebagai diskursus senirupa dapat ditanyakan kembali dimana kreativitas obyektif atas karya tersebut. Disinilah estetika menjadi alat dimana karya rupa dapat mempunyai nilai seni dan dapat dipertimbangkan kelayakannya dalam obyek artistik. Karena melalui bentuk, semua patung dapat dikenali visualisasinya tetapi sebagai obyek artistik, apakah patung itu mempunyai fenomena visual artistik yang dapat disebut sebagai karya seni? Ataukah patung sebagai alat pajang monumental yang sekedar untuk mencari perhatian orang lewat.
Nadi gallery memasukan patung-patung yang mempunyai ukuran besar-besar dalam ruang pamer. Walaupun estetika dari patung-patung itu kurang menonjol sebagai obyek artistik. Memang secara bentuk patung prosesi salib ini mempunyai sifat monumental karena ukuran yang memang dipergunakan untuk luar ruang. Kekuatan visual patung dengan karakter arkaiknya inilah yang mendukung bagaimana artistik patung menjadi obyek nyata secara visual yang menarik. Serta narasi dari patung-patung yang mendukung untuk digelar menyerupai opera diatas panggung. Berbagai gerak patung yang menyerupai gestur tubuh yang ini cukup membuat ruang pamer menjadi sempit hingga tidak ada jarak pandang ketika patung diletakan dalam posisi tertidur. Bagaimana melihat patung sambil melongok kebawah? Tanpa jarak pandang yang sesuai dengan keinginan mata mengungkap keindahan visual patung.
Selain patung, lukisan dan sketsa mempunyai dimensi lain terhadap abstraksi yang dapat membuat satu fenomena artistik terwujud. Kekuatan sketsa Teguh Ostenrik merupakan pelukisan mimik ketika Yesus dihadapkan pada salib. Kekuatan ekspresi pada raut muka obyek tidak terlukis dengan jelas. Obyektivitas melihat mimik hanya sebatas bagaimana menampakan roman muka tanpa melihat ekspresi kedalaman ketika Yesus mengangkut salib. Artikulasi obyektif dari sketsa ini hanya sebatas figur yang mendominasi karya sketsa ini.
Melalui lukisan, Teguh Ostenrik bermain dengan komposisi warna dan mimik,roman muka yang menjadi obyek, serta figur tidak utuh dari obyek manusia yang dilukiskannya. Seperti dalam lukisan yang berjudul Go and Carry on Your Task (2004), mixed media on canvas, 120x200cm. Mimik wajah dilukiskannya dengan berserakan diatas bidang kanvas sebagai representasi dari ungkapan ekspresi, satu pertemuan diatas meja makan. Dengan gelas-gelas minuman berada dihadapan roman muka, tanpa sepotong tubuh yang nampak jelas, sedangkan komposisi warna nampak menonjol mengikuti roman atau raut wajah berada dalam posisi seperti topeng bertemu muka. Lebih ekstrim lagi, dalam karya terracotta yang berjudul The Last Supper (2002), 80x200cm. obyek yang ditunjukannya adalah ekspresi wajah-wajah dari roman muka yang berwujud topeng. Dihadapan wajah-wajah tersebut tersedia piring-piring dengan makanan serta satu buah alat minum seperti cangkir tetapi besar wujudnya. Lebih ekspresif dengan roman muka ketika makan. Hanya goresan yang membuat karya ini menonjol artsitiknya.
Estetika Teguh Ostenrik memang memuat komposisi warna yang menjadi satu kekuatan visual atas karya lukisnya. Sedangkan patung memberi satu visualisasi terhadap satu kejadian yang memang telah menjadi legenda, tidak menampakan kekuatan emosi artistiknya secara visual. Walaupun demikian sketsa lah yang mendukung artikulasi dari art proyek ini, menjadi abstraksi yang berbeda.